PARTNER
 
LINK LUAR
IBI
PATELKI
PPGI
IAKI SUMUT
PPNI
PERSAGI
HAKLI
PAFI
EFEK ORANG TUA MEMBERIKAN JULUKAN NEGATIF BAGI ANAK
10 Juli 2017

 
Pernahkah kita kesal dengan anak balita karena tiba-tiba si anak punya kebiasaan baru yang buruk, seperti sering rewel, ngompol, menggigit-gigit kuku, yang sebelumnya tidak biasa dilakukannya? Lalu karena kesal menyebut si anak “Si Bandel” atau “Si Nakal”, dan sebutan lainnya yang tidak sedap didengar. Datang pula si Mbak di rumah ikut-ikutan memanggil anak asuhannya dengan panggilan yang sama. Rewel, ngompol, melawan, atau sikap yang tidak biasa lainnya, boleh jadi disebabkan karena si anak memang sedang sakit badannya. Namun ia tidak mampu menyampaikan rasa sakit yang dirasakan secara jelas dan dimengerti orang dewasa. Karena si anak belum mampu mengontrol dirinya maka tiba-tiba ia pipis di celana tanpa memberi tahu. Selain faktor kesehatan fisik yang sedang kurang sehat, ada hal lain yang terjadi di luar pengetahuan orangtua. Anak berperilaku aneh disebabkan karena mengalami tekanan psikologis dimana salah satu penyebabnya karena ulah orang dewasa seperti ibu, bapak atau pengasuh, atau orang yang lebih besar dari si anak, kawan bermain misalnya. Orang-orang tersebut telah menempelkan sebuah julukan yang terus menerus kepada si anak setiap ia melakukan perilaku atau sikap yang tidak diinginkan orang lain. Dan julukan tersebut merupakan julukan yang bersifat merendahkan, menekan, membatasi, menghalangi sehingga anak tidak berkutik. Bayangkan, jika setiap anak membuat kesalahan ringan, orang tua selalu cepat berkata, “Dasar anak bodoh…”. Apa lagi kesalahan besar, maka julukan buruk dan caci maki akan tumpah ruah ke dalam pendengaran, perasaan dan diri si anak yang polos ini. Meskipun anak masih kecil, jangan dikira mereka tidak punya rasa apa-apa sehingga orang dewasa dengan sesukanya memanggil si kecil dengan julukan sesukanya. Julukan positif memberikan efek positif bagi perkembangan konsep dirinya, sehingga anak akan merasa memiliki kebanggan dan memandang dirinya secara positif.. Bandingkan ketika kalimat keluar dari mulut ibu, “ Ah...dasar anak bodoh...”, ekspresi yang keluar dari anak adalah dengan wajah cemberut, sedih, bahkan mungkin menagis, ia merasa terpukul, terhina, bahkan mungkin ia akan menunjukkan perlawanan dalam bentuk yang tidak disangka-sangka. Mengapa ? Karena julukan yang terlalu sering ia dengar berulang-ulang membuatnya malu, kecewa, tersinggung tetapi ia tidak mampu melawannya, maka dari alam bawah sadar keluarlah sikap prilaku yang menyimpang. Tentunya bukan berarti tidak boleh mengatakan si anak memang nakal atau bodoh, tetapi alangkah baiknya jika di pilihkan kata yang tidak melukai jiwa si anak. Midsalnya “ kamu kenapa nakal dengan temanmu ? Bukan dengan memberi cap atau stigma nakal meskipun kenyataan nya anak tersebut memang nakal. Terangkan kepadanya bahwa mengganggu teman itulah perbuatan yang nakal, jadi lebih kepada perbuatan yang di lakukannya.Bukan sebutan atau julukan karena kelakuannya... So...para ortu mari kita tanyakan pada diri kita sendiri.... (Maya/Farmasi)
[ - ]

<< Index Berita